Peristiwa terjadinya PADAN (baca-ikrar) antara marga Nainggolan dan Siregar, bermula dari
dua orang perempuan, yang satu adalah istri dari Nainggolan Parhusip dan yang
satunya adalah istri dari Toga Siregar. Diceritakan, istri dari Nainggolan
Parhusip merindukan kehadiran seorang anak perempuan di tengah keluarganya,
sementara istri Toga Siregar sebaliknya merindukan kehadiran seorang anak
laki-laki.
Bagi istri Nainggolan Parhusip yang telah
melahirkan beberapa anak dan semua laki-laki, menjadi alasan baginya untuk
mengharapkan seorang anak perempuan. Lain lagi dengan istri Toga Siregar, yang
juga belum melahirkan seorang anak laki-laki, menjadi kekhawatiran tersendiri
baginya, karena dia adalah istri yang kedua, sementara istri Siregar yang
pertama, telah melahirkan dua anak laki-laki.
Perlu juga diketahui, istri Siregar yang
kedua ini, adalah adik kandung dari istri pertamanya, yang meninggal setelah
melahirkan anaknya yang kedua. Dengan demikian, istri kedua Siregar
menggantikan istri pertamanya dengan upacara ”ganti rere” (istri
sebelumnya adalah kakak kandung dari istri berikutnya - red)
Ketika saat persalinan tiba, semua harapan
menjadi sirna. Istri Siparhusip tetap saja melahirkan anak laki-laki, dan istri
Siregar melahirkan anak perempuan. Rupanya Sibaso (Paraji –
red), wanita yang membantu persalinan mereka berdua adalah orang yang
sama, sosok yang tau persis, keluhan dari kedua wanita itu. Dan, atas petunjuk
dari Sibaso/Paraji tersebut, peristiwa besar itupun terjadi.
Dibantu Sang Sibaso, kedua wanita itu
membuat kesepakatan, dan kedua anak yang baru saja dilahirkan kemudian ditukar,
anak laki-laki yang dilahirkan istri Siparhusip diberikan kepada istri Siregar,
dan anak perempuan yang dilahirkan istri Siregar diserahkan kepada istri
Siparhusip. Dikabarkan juga, tidak ada yang mengetahui peristiwa itu terjadi, selain
tiga orang perempuan, yakni istri Nainggolan Parhusip, istri Toga Siregar dan
Sibaso yang membantu persalinan mereka.
Peristiwa besar itu ditandai dengan
datangnya ronggur (petir – red) menggelegar, yang membuat
seisi wilayah itu terkejut pada siang itu, karena suara itu memekakkan telinga,
sampai membuat telinga seperti hendak pecah. Seluruh warga yang mendengar suara
itu, memastikan bahwa telah terjadi peristiwa tidak lazim. Hanya saja mereka
tidak tau, peristiwa apa yang telah terjadi dan dimana peristiwa itu
berlangsung.
Selain membuat penduduk desa terkejut, suara
petir itu juga membuat Siparhusip dan Siregar, serta para nelayan yang sedang
mencari ikan di tengah danau terkejut bukan kepalang. Hal itu membuat mereka
menjadi takut, lalu menepi ke pantai dan pulang ke rumah masing-masing.
Betapa riangnya hati Siparhusip dan Siregar,
setelah mereka tau istri mereka melahirkan anak dengan selamat. Mereka sama
sekali tidak tau hari itu istri mereka telah melahirkan, kalau warga desa tidak
memberitahukannya. Mendengar berita bahagia itu, mereka berdua semakin
mempercepat langkah, agar tiba di rumah lebih cepat.
Setibanya di rumah, Siparhusip segera
menghampiri istrinya, lalu mengucapkan selamat, yang ia ungkapkan sebagai wujud
sukacita. Rasa sukacita Siparhusip semakin bertambah-tambah, setelah ia tau
anaknya yang lahir adalah seorang perempuan. Tetapi, semakin ia memperhatikan
anak itu, rasa suka cita yang sedari tadi menghiasi wajah Siparhusip mulai
berubah. Ekspresi wajah Siparhusip semakin menunjukkan rona kecurigaan, ketika
semakin ia menatap anak perempuan yang baru lahir itu.
Melihat gelagat suaminya yang mulai curiga,
istri Siparhusip mulai gelisah. Kegelisahan itu semakin meningkat dan berubah
menjadi rasa takut, ketika tiba-tiba petir kembali menggelegar hingga membuat
bayi perempuan itu kaget lalu menangis. Sementara itu, kecurigaan Siparhusip
semakin meningkat seiring dengan suara petir yang datang secara tiba-tiba,
membuat ia semakin percaya kepada kata hatinya, bahwa bayi perempuan itu
bukanlah darah dagingnya.
Tidak menunggu lama, istri Nainggolan
Parhusip segera bangkit dan menghampiri suaminya, lalu membungkuk dan sujud,
seraya menuturkan peristiwa yang sudah terjadi, kemudian memohon ampun atas
segala dosa yang telah ia lakukan, karena ia telah bertindak terlalu jauh,
tanpa sepengetahuan suaminya.
Melihat ketulusan hati istrinya untuk
memohon ampun, Siparhusip mengurungkan niat untuk menghukum istrinya, lalu
meraih bayi perempuan itu dari sisi istrinya, kemudian membawa pergi menuju
kediaman Siregar. Nainggolan Parhusip berniat untuk menukar kembali bayi
perempuan, dengan bayi laki-lakinya yang ada pada keluarga Siregar.
Melihat Siparhusip muncul diambang pintu
rumahnya dengan membawa bayi, istri Siregar mendadak ketakutan. Ia sadar,
rahasia yang ia simpan bersama istri Si Parhusip tentang pertukaran bayi
sepertinya telah terbongkar. Melihat gelagat Siparhusip sudah siap untuk angkat
bicara, istri Siregar segera bangkit dari tempatnya, lalu tunduk dan sujud di
hadapan suaminya. Istri Siregar juga menjelaskan dengan rinci peristiwa yang
telah terjadi, dan mengakui segala kesalahan yang telah ia lakukan, lalu
memohon ampun kepada suaminya atas tindakan itu.
Toga Siregar sangat terkejut mendengar
penjelasan dari istrinya, sehingga membuatnya tak mampu bicara walau sepatah
kata. Pengakuan istrinya membuat dirinya terkulai lemas, sebab anak laki-laki
mereka bukanlah anak yang lahir dari rahim istrinya, melainkan dari rahim istri
Siparhusip. Melihat situasi yang semakin tidak menentu, Siregar hanya bisa
berserah kepada Yang Maha Kuasa. Ia pasrah kalau Siparhusip sampai melampiaskan
amarah kepada dirinya. Ia sangat sadar, bahwa istrinya telah bertindak
melampaui batas.
Melihat Siregar pasrah dalam ketidak
berdayaan, kemudian Nainggolan Parhusip angkat bicara. Dia menyesalkan semua
tindakan para istri, karena bertindak tanpa melakukan musyawarah terlebih
dahulu dengan para suami mereka. Jika keinginan itu dibicarakan dengan baik,
tentu ada hal yang membuat pembicaraan berakhir dengan mufakat. Begitu Si
Parhusip menuturkan kata, yang sedari tadi dipendam di dalam hati.
Kemudian Nainggolan Parhusip membuat
pernyataan yang mencengangkan, bahwa sejak saat itu, Siregar harus menjadi
adiknya lalu mengangkat sumpah, bahwa sejak saat itu pula, anak laki-laki
keturunan Nainggolan Parhusip tidak boleh mengawini anak perempuan Siregar
Silali, dan begitu juga sebaliknya, anak laki-laki keturunan Siregar Silali
tidak boleh mengawini anak perempuan Nainggolan Parhusip. Dan sejak saat itu,
bayi laki-laki yang diserahkan Siparhusip kepada Siregar, resmi diberi nama
Silali.
Masih mendekap bayi perempuan Siregar,
Nainggolan Parhusip melanjutkan pernyataannya, bahwa sejak saat itu anak
perempuan Siregar menjadi anaknya, dan anak laki-lakinya sendiri ia serahkan
menjadi anak Siregar. Mendengar pernyataan Siparhusip, Siregar dan istrinya menjadi
lega, dan mereka berdua bangkit dari tempatnya secara bersamaan dan sujud di
hadapan Nainggolan Parhusip, lalu menyatakan menerima sumpah (padan – red)
sebagai sumpah bersama, dan menjadi sumpah secara turun-temurun bagi keturunan
Nainggolan Parhusip dan Siregar Silali.
Hingga saat ini, keturunan Nainggolan
Parhusip dan keturunan Siregar Silali tidak ada yang saling menikah, mereka
sungguh menghormati PADAN (sumpah – red) yang telah dinaikkan oleh kakek moyang
mereka. Dahulu memang hanya Nainggolan Parhusip dengan Siregar Silali saja yang
mengangkat sumpah, namun saat ini semua keturuanan Nainggolan dan keturunan
Siregar sudah bersatu dan sepakat, bahwa sumpah bukan hanya milik Nainggolan
Parhusip dan Siregar Silali semata, melainkan untuk semua keturunan
Nainggolan dan keturunan Siregar lainnya.
CATATAN
Sebelumnya kami mohon maaf untuk setiap
orang, khususnya keturunan Toga Nainggolan dan Toga Siregar, terkait dengan
tidak tercapainya nilai kesempurnaan artikel di atas, untuk menempatkan sisi
kebenaran ceritanya, sesuai dengan harapan setiap orang. Hal ini kami
sampaikan, mengingat ada beberapa versi tentang sumpah (padan – red)
Nainggolan dan Siregar yang beredar di tengah masyarakat, termasuk diantaranya
dalam komunitas Nainggolan dan Siregar itu sendiri.
Dari berbagai cerita yang kami himpun, pada
dasarnya cerita yang masuk, semua menggaris bawahi pertukaran bayi sebagai inti
dari cerita, sama halnya dengan cerita yang kami sajikan dalam artikel di atas.
Terlepas dari alur yang berbeda, kami berharap semua orang dapat memahaminya,
sebab kami melakukan ini hanya karena rasa kagum atas kekayaan cerita rakyat
Batak, yang melegenda hingga ke manca negara.